Minggu, 17 Maret 2019

Meski Jadi Produsen Besar Ekspor Kopi Sumsel Belum Optimal

Meski Jadi Produsen Besar Ekspor Kopi Sumsel Belum Optimal

Ketua Dewan Kopi Sumsel (DKS), Zein Ismed mengatakan, potensi produksi kopi di provinsi itu sebanyak 184.166 ton per tahun. Namun, saat ini baru 2.000 ton kopi dengan nilai Rp 39,5 miliar yang dipasarkan keluar negeri.

"Ekspor kopi asal Sumsel masih belum optimal, jumlahnya sangat sedikit," ungkap Zein, Jumat (15/3).

Menurut dia, eksportir lebih memilih ekspor melalui Lampung karena lebih efisien dan biaya lebih murah. Sebab, di Pelabuhan Lampung merupakan pelabuhan dalam sedangkan di Sumsel hanya pelabuhan sungai.

"Di Sumsel itu hanya bisa satu kali ekspor hanya 5 ribu hingga 6 ribu dwt. Kalau di Lampung bisa sampai 10 ribu dwt. Jadi tentunya lebih efisien dan biaya murah," ujarnya.

Dijelaskannya, ekspor melalui Lampung tersebut membuat merubah kesan terhadap kopi Sumsel. Orang lebih mengenal kopi Lampung meski asalnya dari Bumi Sriwijaya. "Kopinya dari kita, tapi orang tahunya dari Lampung. Karena pengiriman kopi lewat Lampung," kata dia.

Oleh karena itu, diperlukan infrastruktur baru di daerah sendiri. Pelabuhan Tanjung Api-api di Banyuasin menjadi harapan agar terjadi peningkatan pendapatan asli daerah dan perekonomian petani.

"Selama ini tujuan ekspor kita seperti Inggris, Jerman, Timur Tengah, dan Cina," terangnya.

Selain itu, kualitas kopi juga perlu ditingkatkan karena menentukan nilai tambah. Peningkatan itu dimulai dari replanting, sistem panen dan pengelolaannya. "Apalagi masih ada petani yang mengoplos kopi, padahal kopi seperti itu tidak bisa diekspor," tandasnya. 

0 komentar:

Posting Komentar